Berawal dari ide yang sangat sederhana mengenai pola hidup manusia yang agak berubah sejak adanya jejaring sosial, sutradara muda Kuntz Agus mencoba menggarap sebuah film yang bertajuk #republiktwitter.
Kuntz yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara dari berbagai film pendek dan dokumenter ini mengaku, film #republiktwitter adalah sebagai media pembelajaran yang pas baginya karena mengangkat tema tentang keseharian orang dengan Twitter.
Meskipun film ini adalah karya layar lebar pertamanya, namun Kuntz berhasil mengajak beberapa bintang film ternama seperti Tio Pakusadewo, Laura Basuki, Abimana Aryasatya, dan Gary Iskak untuk terlibat di dalamnya. Untuk mengetahui lebih jauh tentang #republiktwitter, tim 21cineplex.com sempat menemui Kuntz Agus saat sedang menggelar acara Coaching Clinic di sebuah cafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Bagaimana awalnya bisa memiliki ide untuk menggarap film #republiktwitter?
"Saya sudah cukup lama kenal dengan Ajish Dibyo (produser) dan sering ketmu di Jogja. Kalau dengan Eddri Sumitra (penulis naskah), proyek terakhir saya memang sama dia. Awalnya sih ngobrol-ngobrol aja ketika Eddri tawarin cerita ke saya tentang Twitter, dan kebetulan saat itu memang saya lagi sangat pengen banget kerjaakan film mengenai Twitter.
Saya sebelumnya juga sempet buat film pendek tentang Twitter, tapi tentang orang yang punya alter ego lewat Twitter gitu. Akhirnya kita sepakat pada bulan Juni 2011 untuk cari duit tentang film ini, kita anggap film ini sebagai media pembelajaran karena ini adalah film panjang pertama kita".
Jadi pada awalnya memang sudah tercetus untuk membuat film berjudul #republiktwitter?
"Yaa ada beberapa naskah sih, tapi kita klopnya disitu. Kita pilih itu karena dianggap pas untuk tahap belajar kita. Meskipun sebagai wadah media pembelajaran, namun bukan berarti kita main-main disini kita mengerjakan dengan sangat serius juga".
Sebelum menggarap ini sempat melakukan riset tentang Twitter nggak?
"Kalau soal konten Twitter saya sudah buat sejak lama sih, intinya sih film ini bukan hasil dari nafsu kita, tapi berusaha menceritakan tentang kita melalui Twitter. Contohnya ada teman kita yang lagi nyetir dan temannya yang satu lagi enak Twitter-an sehingga menimbulkan kesan diacuhin, peristiwa-peristiwa kecil seperti itulah yang kita coba masukan menjadi serangkaian cerita".
Mana yang lebih enak, buat film panjang atau film pendek?
"Kalau dari hati sih lebih enak film pendek, karena itu nggak perlu negoisasi dengan diri sendri ataupun produser. Di film pendek saya suka dengan pengambilan 'long take', dari satu scene bisa hanya dengan 3 take. Tapi disini (film panjang) aku harus bisa kompromi, namun perasaan puas juga ada di dalamnya."
Belum memiliki pengalaman menggarap film layar lebar, apakah sempat menjadi hambatan untuk menggaet artis-artis besar di film #republiktwitter?
"Ketika didepan saya sih nggak ada. Karena saya percaya ketika membuat sebuah film, kita semua ada di dalam tim. Pemain itu orang yang berdiri di depan saya dan bukan di belakang saya. Jadi mereka lebih tau akting daripada saya, saya juga tau sih, tapi itu kan dari sudut pandang saya dan mereka harusnya lebih tau jika mereka bertemu dengan keadaan tersebut dalam sebuah adegan. Saya percaya pada beberapa titik tertentu akting mereka justru lebih bagus dan ada suprise tersendiri didalamnya, saya nggak mau buat mereka kaya robot".
Film #republiktwitter ini kan diangkat dari sebuah fenomena, apakah kedepannya film Kuntz juga akan seperti itu?
"Teman saya selalu berpesan kepada saya, apapun film yang kamu kerjakan, kasih unsur dirimu didalamnya walau cuma 1%. Saya sebenarnya sih lebih suka buat film thriller action atau drama thriller yang lebih sepi dan long take. Jadi saya nggak akan bertahan dengan film-film fenomena, era Twitter buat saya sudah selesai di tahun-tahun kemarin, sekarang fasilitas itu sudah jadi keseharian".
Sudah ada tawaran untuk membuat film Thriller?
"Yaa ada beberapa sih dan tawarannya itu lewat naskah saya sendri. Tapi belum bisa saya bicarakan lebih lanjut".
Anda sempat bilang merasa lebih nyaman menggarap film pendek, seberapa kompromi kah anda di film panjang?
"Yang paling utama adalah unsur ceritanya. Walau sebutuh-butuhnya saya dengan duit, saya sudah terbiasa miskin. Jadi pertimbangan utama saya pasti ceritanya. Saya nggak ingin berkualitas standart dan harus melalui proses waktu. Saya bisa membedakan mana cerita yang buat film dengan yang buat duit".
Apa sih pesan yang coba ditawarkan melalui #republiktwitter?
"Pesannya ya tentang kita aja. Seakan meletakan cermin kecil kita yang ada di film itu. Saya ingin lihat penonton saya melihat diri mereka sendiri untuk sejenak. Jejaring sosial buat saya bukanlah suatu hal yang merusak, ini hanya merubah pola hidup aja".
Mungkin nggak sih #republiktwitter ada sekuelnya?
"Saya belum kepikiran sih. Selain itu saya cenderung nggak suka dengan sekuel".
Harapan anda lewat film #republik Twitter?
"Saya hanya menjelaskan kalau kita telah bekerja keras di film ini. Harapannya adalah, lewat film ini dan film-film yang lain untuk bisa kembali membawa penonton ke bioskop. Dengan itu, kita nggak akan lagi merasa khawatir dalam membuat sebuah film karena sudah lebih terarah".
Kuntz yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara dari berbagai film pendek dan dokumenter ini mengaku, film #republiktwitter adalah sebagai media pembelajaran yang pas baginya karena mengangkat tema tentang keseharian orang dengan Twitter.
Meskipun film ini adalah karya layar lebar pertamanya, namun Kuntz berhasil mengajak beberapa bintang film ternama seperti Tio Pakusadewo, Laura Basuki, Abimana Aryasatya, dan Gary Iskak untuk terlibat di dalamnya. Untuk mengetahui lebih jauh tentang #republiktwitter, tim 21cineplex.com sempat menemui Kuntz Agus saat sedang menggelar acara Coaching Clinic di sebuah cafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Bagaimana awalnya bisa memiliki ide untuk menggarap film #republiktwitter?
"Saya sudah cukup lama kenal dengan Ajish Dibyo (produser) dan sering ketmu di Jogja. Kalau dengan Eddri Sumitra (penulis naskah), proyek terakhir saya memang sama dia. Awalnya sih ngobrol-ngobrol aja ketika Eddri tawarin cerita ke saya tentang Twitter, dan kebetulan saat itu memang saya lagi sangat pengen banget kerjaakan film mengenai Twitter.
Saya sebelumnya juga sempet buat film pendek tentang Twitter, tapi tentang orang yang punya alter ego lewat Twitter gitu. Akhirnya kita sepakat pada bulan Juni 2011 untuk cari duit tentang film ini, kita anggap film ini sebagai media pembelajaran karena ini adalah film panjang pertama kita".
Jadi pada awalnya memang sudah tercetus untuk membuat film berjudul #republiktwitter?
"Yaa ada beberapa naskah sih, tapi kita klopnya disitu. Kita pilih itu karena dianggap pas untuk tahap belajar kita. Meskipun sebagai wadah media pembelajaran, namun bukan berarti kita main-main disini kita mengerjakan dengan sangat serius juga".
Sebelum menggarap ini sempat melakukan riset tentang Twitter nggak?
"Kalau soal konten Twitter saya sudah buat sejak lama sih, intinya sih film ini bukan hasil dari nafsu kita, tapi berusaha menceritakan tentang kita melalui Twitter. Contohnya ada teman kita yang lagi nyetir dan temannya yang satu lagi enak Twitter-an sehingga menimbulkan kesan diacuhin, peristiwa-peristiwa kecil seperti itulah yang kita coba masukan menjadi serangkaian cerita".
Mana yang lebih enak, buat film panjang atau film pendek?
"Kalau dari hati sih lebih enak film pendek, karena itu nggak perlu negoisasi dengan diri sendri ataupun produser. Di film pendek saya suka dengan pengambilan 'long take', dari satu scene bisa hanya dengan 3 take. Tapi disini (film panjang) aku harus bisa kompromi, namun perasaan puas juga ada di dalamnya."
Belum memiliki pengalaman menggarap film layar lebar, apakah sempat menjadi hambatan untuk menggaet artis-artis besar di film #republiktwitter?
"Ketika didepan saya sih nggak ada. Karena saya percaya ketika membuat sebuah film, kita semua ada di dalam tim. Pemain itu orang yang berdiri di depan saya dan bukan di belakang saya. Jadi mereka lebih tau akting daripada saya, saya juga tau sih, tapi itu kan dari sudut pandang saya dan mereka harusnya lebih tau jika mereka bertemu dengan keadaan tersebut dalam sebuah adegan. Saya percaya pada beberapa titik tertentu akting mereka justru lebih bagus dan ada suprise tersendiri didalamnya, saya nggak mau buat mereka kaya robot".
Film #republiktwitter ini kan diangkat dari sebuah fenomena, apakah kedepannya film Kuntz juga akan seperti itu?
"Teman saya selalu berpesan kepada saya, apapun film yang kamu kerjakan, kasih unsur dirimu didalamnya walau cuma 1%. Saya sebenarnya sih lebih suka buat film thriller action atau drama thriller yang lebih sepi dan long take. Jadi saya nggak akan bertahan dengan film-film fenomena, era Twitter buat saya sudah selesai di tahun-tahun kemarin, sekarang fasilitas itu sudah jadi keseharian".
Sudah ada tawaran untuk membuat film Thriller?
"Yaa ada beberapa sih dan tawarannya itu lewat naskah saya sendri. Tapi belum bisa saya bicarakan lebih lanjut".
Anda sempat bilang merasa lebih nyaman menggarap film pendek, seberapa kompromi kah anda di film panjang?
"Yang paling utama adalah unsur ceritanya. Walau sebutuh-butuhnya saya dengan duit, saya sudah terbiasa miskin. Jadi pertimbangan utama saya pasti ceritanya. Saya nggak ingin berkualitas standart dan harus melalui proses waktu. Saya bisa membedakan mana cerita yang buat film dengan yang buat duit".
Apa sih pesan yang coba ditawarkan melalui #republiktwitter?
"Pesannya ya tentang kita aja. Seakan meletakan cermin kecil kita yang ada di film itu. Saya ingin lihat penonton saya melihat diri mereka sendiri untuk sejenak. Jejaring sosial buat saya bukanlah suatu hal yang merusak, ini hanya merubah pola hidup aja".
Mungkin nggak sih #republiktwitter ada sekuelnya?
"Saya belum kepikiran sih. Selain itu saya cenderung nggak suka dengan sekuel".
Harapan anda lewat film #republik Twitter?
"Saya hanya menjelaskan kalau kita telah bekerja keras di film ini. Harapannya adalah, lewat film ini dan film-film yang lain untuk bisa kembali membawa penonton ke bioskop. Dengan itu, kita nggak akan lagi merasa khawatir dalam membuat sebuah film karena sudah lebih terarah".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar