Wulan Guritno di layar kaca dan dunia layar lebar memang bukanlah nama yang baru. Perempuan kelahiran London, 14 April 1980 ini diketahui sudah cukup lama menekuni karirnya di dunia seni peran dengan membintangi puluhan sinetron dan belasan layar lebar.
Namun Wulan seakan tidak ingin berhenti menekuni dunia film sebatas aktris saja. Istri dari Adilla Damitri ini diketahui sudah mulai menjajal menjadi seorang penulis novel dan sutradara film pendek. Wulan sempat merilis novel bertajuk Feel pada tahun 2009 dan membuat film pendek berjudul Bidan Lelaki di tahun 2008.
Kini, langkahnya di dunia perfilman pun mulai meningkat. Penyandang gelar Aktris Terfavorit versi Indonesian Movie Awards 2011 tersebut memberanikan diri untuk menjadi produser di film multiplot berjudul Dilema. Film yang melibatkan 4 sutradara yang terdiri dari Robert Ronni, Adilla Dimitri, Rhinaldi Puspoyo, dan Robby Ertanto Soedikam ini akan siap dirilis pada tanggal 23 Februari 2012.
Berikut adalah hasil wawancara eksklusif 21cineplex.com saat menemui Wulan Guritno di kediamannya di kawasan Ampera, Jakarta Selatan.
Bagaimana nih ceritanya Wulan akhirnya berani terjun menjadi produser?
"Sebenarnya sih ini nggak dadakan ya, semuanya pelan-pelan. Dimulainya itu, secara pastinya aku juga lupa apakah setelah nulis novel Feel (2009) atau buat film pendek dulu. Sebagai aktris aku kan punya banyak teman dari para pelaku perfilman, baik yang di depan layar maupun belakang layar. Sejak itulah aku mulai belajar lebih dalam mengenai proses pembuatan film dan cara bisnisnya.
Dulu ketika buat film pendek sebagai kado pernikahan teman, hasrat itu terbangun. Tadinya kan novel Feel mau dibuat film dan saat pengerjaan novel itu juga saya sudah kerjasama dengan dengan Robert Ronni yang akhirnya sekarang kita ajak kerjasama sebagai salah satu sutradara di film Dilema. Jadi novel Feel itu sudah ada script-nya sudah tinggal garap."
Istilahnya Produser menjadi hasrat terpendam Wulan nih?
"Sebenarnya dari dulu passion ini sudah ada, tapi ya belajar sedikit-sedikit lah. Rasa takutnya sampai sekarang sih masih ada tapi ya nekat aja dan masih didampingin untuk bisa saling mengingatkan karena masih baru."
Lalu bagaimana ide awalnya bisa tercipta untuk membuat film Dilema?
"Awalnya ya gara-gara Robby Ertanto yang mengusulkan untuk membuat film multiplot. Tadinya sih film itu untuk gerilya aja yang hanya diputar di kampus dan komunitas, bukan untuk bioskop karena budgetnya juga nggak banyak. Sebelumnya saya sempat jadi sutradara di film Dilema, tapi karena butuh produser akhirnya saya mundur dan mengisi posisi tersebut.
Setelah itu mulai berkembang dan Dilla juga mengajak Rhinaldi Puspoyo, dan Robby Ertanto Soedikam. Saat saya keliling pertama untuk cari dana sekitar satu minggu, uang yang terkumpul lumayan dan bisa buat film untuk bioskop, darisitulah saya semakin semangat untuk menggarap ini."
Terpilihnya 4 sutradara di film Dilema prosesnya bagaimana?
"Ya intinya dari kenalan-kenalan kita sih yang sebelumnya sempat pernah kerja bareng. Karena kita masih baru untuk membuat film jadi kita butuh rekan kerja yang sudah pernah kita ajak kerjasama."
Pada saat ketemu para sutradara tersebut apakah memang sudah ada bayangan buat cerita mengenai kehidupan metropolitan?
"Belum, tadinya sempat punya tema rumah sakit, dark movie dan sebagainya deh, tapi pada akhirnya kita putuskan buat tentang kehidupan kota Jakarta dari bermacam kalangan."
Lalu, apakah Wulan nantinya akan terus di belakang layar?
"Passion aku memang di film dan aku adalah seorang aktris yang mencoba belajar untuk membuat film. Karena sudah lama main film dan punya banyak teman, pastinya banyak juga yang membagi ilmunya ke saya. Aku juga terus belajar perkembangan film disini dan diluar agar aku bisa sumbangkan talenta aku buat bangsa aku juga.
Kalau soal akting aku nggak akan tinggalkan karena itu soul aku, kalau aku tinggalin kaya ada sesuatu yang hilang aja. Lagi pula badan aku masih kurang bagus paska melahirkan jadi ngecilin dulu baru deh balik akting lagi."
Film Dilema ini kan sutradaranya lebih dari satu, bagaimana cara atur komposisinya?
"Kalau diantara mereka aku agak kurang paham ya, aku lihat sih ada prosesnya karena nggak kenal satu sama lain pada awalnya dan gontok-gontokan, tapi kedepannya baik lagi. Namanya seniman egonya mungkin agak tinggi, tapi ya disini aku mungkin hanya sebagai penengah saja kalau sedang ada situasi seperti itu."
Ketika proses editing, adakah keluhan dari beberapa sutradara yang hasil karyanya dipotong?
"Dilema itu konsepnya satu film dan satu skenario, jadi bukan hanya karya Dilla, Robby dan sebagainya. Hasil edit adalah untuk kesatuan dan kebutuhan film bukan karena ego masing-masing. Keluhan pasti ada, tapi semua sudah duduk sama-sama karena ini demi karya bersama juga. Ini adalah yang terbaik dan tidak ada lagi yang mikir ini punya siapa, melainkan satu kesatuan yang utuh sebagai film bersama."
Kenapa Dilema penuh banget dengan bintang yang senior hingga junior?
"Karena dari awal ngumpulin ide cerita dan script kita sudah ngebayangin siapa tokoh-tokoh yang memerankan karakter tersebut. Alhamdulillah 80% tercapai dan hanya 20% nggak kesampaian. Emang sih nggak gampang untuk deketin Tio Pakusadewo dan Slamet Raharjo, tapi karena melihat ketulusan dan keseriusan kita untuk membuat film bagus akhirnya mereka mau ikut terlibat."
Kesulitan terbesar sebagai produser?
"Waktu. mengatur waktu, menyatukan semua bintang, dan crew itu susah banget. makanya jadwal kita mundur yang tadinya siap dirilis bulan November 2011 mundur jadi Januari 2012 dan sekarang fix jadi 23 Februari 2012 karena proses editnya juga butuh waktu yang nggak sebentar. Durasi yang tadinya ada 150 menit harus dipangkas menjadi 100 menit."
Apakah 50 menit itu nggak sayang untuk dibuang?
"Ya proses editing memang sudah kaya puzzle ya, setiap rubah format temanya juga seakan ikut berubah. Bisa seperti terlalau tentang keluarga banget, kriminal banget, dan dark banget. akhirnya kami putuskan untuk menceritakan tentang hubungan antara baakdan anak dengan background kehidupan kota Jakarta. Aku juga sebenarnya nggak mau 50 menit itu terbuang tapi mungkin bisa kami manfaatkan saat rilis DVD nanti."
Dilema kan penuh bintang, kira-kira memamakan budget yang tinggi juga ngak sih?
"Kalau untuk film Indonesia sih cukup mahal, tapi kalau sekelas film Asia ya ini masih sangat murah. Kalau film mahal itu kan diatas 6 miliar, kalau kita masih di bawah itu kok."
Apakah sudah ada rencana untuk film kedepannya?
"Kita sudah punya banyak ide cerita film. Kita tinggal lihat kondisi aja mana yang cocok untuk dikeluarkan lebih dulu. Ketika situasinya dirasa pas, maka kita tinggal buka buku pintar kita untuk menggarap film tersebut."
Harapan untuk film Dilema?
"Pokoknya Dilema harus ditonton karena film ini punya konsep berbeda dan unik. Selain itu yang paling utama adalah promonya tepat sasaran dan masyarakat tahu kalau film Dilema resmi diputar pada tanggal 23 Februari 2012. Semoga saja masyarakat yang menonton nanti bisa semua merasa terhibur. Aku nggak ingin sampaikan apa-apa di film ini selain untuk menghibur."
Namun Wulan seakan tidak ingin berhenti menekuni dunia film sebatas aktris saja. Istri dari Adilla Damitri ini diketahui sudah mulai menjajal menjadi seorang penulis novel dan sutradara film pendek. Wulan sempat merilis novel bertajuk Feel pada tahun 2009 dan membuat film pendek berjudul Bidan Lelaki di tahun 2008.
Kini, langkahnya di dunia perfilman pun mulai meningkat. Penyandang gelar Aktris Terfavorit versi Indonesian Movie Awards 2011 tersebut memberanikan diri untuk menjadi produser di film multiplot berjudul Dilema. Film yang melibatkan 4 sutradara yang terdiri dari Robert Ronni, Adilla Dimitri, Rhinaldi Puspoyo, dan Robby Ertanto Soedikam ini akan siap dirilis pada tanggal 23 Februari 2012.
Berikut adalah hasil wawancara eksklusif 21cineplex.com saat menemui Wulan Guritno di kediamannya di kawasan Ampera, Jakarta Selatan.
Bagaimana nih ceritanya Wulan akhirnya berani terjun menjadi produser?
"Sebenarnya sih ini nggak dadakan ya, semuanya pelan-pelan. Dimulainya itu, secara pastinya aku juga lupa apakah setelah nulis novel Feel (2009) atau buat film pendek dulu. Sebagai aktris aku kan punya banyak teman dari para pelaku perfilman, baik yang di depan layar maupun belakang layar. Sejak itulah aku mulai belajar lebih dalam mengenai proses pembuatan film dan cara bisnisnya.
Dulu ketika buat film pendek sebagai kado pernikahan teman, hasrat itu terbangun. Tadinya kan novel Feel mau dibuat film dan saat pengerjaan novel itu juga saya sudah kerjasama dengan dengan Robert Ronni yang akhirnya sekarang kita ajak kerjasama sebagai salah satu sutradara di film Dilema. Jadi novel Feel itu sudah ada script-nya sudah tinggal garap."
Istilahnya Produser menjadi hasrat terpendam Wulan nih?
"Sebenarnya dari dulu passion ini sudah ada, tapi ya belajar sedikit-sedikit lah. Rasa takutnya sampai sekarang sih masih ada tapi ya nekat aja dan masih didampingin untuk bisa saling mengingatkan karena masih baru."
Lalu bagaimana ide awalnya bisa tercipta untuk membuat film Dilema?
"Awalnya ya gara-gara Robby Ertanto yang mengusulkan untuk membuat film multiplot. Tadinya sih film itu untuk gerilya aja yang hanya diputar di kampus dan komunitas, bukan untuk bioskop karena budgetnya juga nggak banyak. Sebelumnya saya sempat jadi sutradara di film Dilema, tapi karena butuh produser akhirnya saya mundur dan mengisi posisi tersebut.
Setelah itu mulai berkembang dan Dilla juga mengajak Rhinaldi Puspoyo, dan Robby Ertanto Soedikam. Saat saya keliling pertama untuk cari dana sekitar satu minggu, uang yang terkumpul lumayan dan bisa buat film untuk bioskop, darisitulah saya semakin semangat untuk menggarap ini."
Terpilihnya 4 sutradara di film Dilema prosesnya bagaimana?
"Ya intinya dari kenalan-kenalan kita sih yang sebelumnya sempat pernah kerja bareng. Karena kita masih baru untuk membuat film jadi kita butuh rekan kerja yang sudah pernah kita ajak kerjasama."
Pada saat ketemu para sutradara tersebut apakah memang sudah ada bayangan buat cerita mengenai kehidupan metropolitan?
"Belum, tadinya sempat punya tema rumah sakit, dark movie dan sebagainya deh, tapi pada akhirnya kita putuskan buat tentang kehidupan kota Jakarta dari bermacam kalangan."
Lalu, apakah Wulan nantinya akan terus di belakang layar?
"Passion aku memang di film dan aku adalah seorang aktris yang mencoba belajar untuk membuat film. Karena sudah lama main film dan punya banyak teman, pastinya banyak juga yang membagi ilmunya ke saya. Aku juga terus belajar perkembangan film disini dan diluar agar aku bisa sumbangkan talenta aku buat bangsa aku juga.
Kalau soal akting aku nggak akan tinggalkan karena itu soul aku, kalau aku tinggalin kaya ada sesuatu yang hilang aja. Lagi pula badan aku masih kurang bagus paska melahirkan jadi ngecilin dulu baru deh balik akting lagi."
Film Dilema ini kan sutradaranya lebih dari satu, bagaimana cara atur komposisinya?
"Kalau diantara mereka aku agak kurang paham ya, aku lihat sih ada prosesnya karena nggak kenal satu sama lain pada awalnya dan gontok-gontokan, tapi kedepannya baik lagi. Namanya seniman egonya mungkin agak tinggi, tapi ya disini aku mungkin hanya sebagai penengah saja kalau sedang ada situasi seperti itu."
Ketika proses editing, adakah keluhan dari beberapa sutradara yang hasil karyanya dipotong?
"Dilema itu konsepnya satu film dan satu skenario, jadi bukan hanya karya Dilla, Robby dan sebagainya. Hasil edit adalah untuk kesatuan dan kebutuhan film bukan karena ego masing-masing. Keluhan pasti ada, tapi semua sudah duduk sama-sama karena ini demi karya bersama juga. Ini adalah yang terbaik dan tidak ada lagi yang mikir ini punya siapa, melainkan satu kesatuan yang utuh sebagai film bersama."
Kenapa Dilema penuh banget dengan bintang yang senior hingga junior?
"Karena dari awal ngumpulin ide cerita dan script kita sudah ngebayangin siapa tokoh-tokoh yang memerankan karakter tersebut. Alhamdulillah 80% tercapai dan hanya 20% nggak kesampaian. Emang sih nggak gampang untuk deketin Tio Pakusadewo dan Slamet Raharjo, tapi karena melihat ketulusan dan keseriusan kita untuk membuat film bagus akhirnya mereka mau ikut terlibat."
Kesulitan terbesar sebagai produser?
"Waktu. mengatur waktu, menyatukan semua bintang, dan crew itu susah banget. makanya jadwal kita mundur yang tadinya siap dirilis bulan November 2011 mundur jadi Januari 2012 dan sekarang fix jadi 23 Februari 2012 karena proses editnya juga butuh waktu yang nggak sebentar. Durasi yang tadinya ada 150 menit harus dipangkas menjadi 100 menit."
Apakah 50 menit itu nggak sayang untuk dibuang?
"Ya proses editing memang sudah kaya puzzle ya, setiap rubah format temanya juga seakan ikut berubah. Bisa seperti terlalau tentang keluarga banget, kriminal banget, dan dark banget. akhirnya kami putuskan untuk menceritakan tentang hubungan antara baakdan anak dengan background kehidupan kota Jakarta. Aku juga sebenarnya nggak mau 50 menit itu terbuang tapi mungkin bisa kami manfaatkan saat rilis DVD nanti."
Dilema kan penuh bintang, kira-kira memamakan budget yang tinggi juga ngak sih?
"Kalau untuk film Indonesia sih cukup mahal, tapi kalau sekelas film Asia ya ini masih sangat murah. Kalau film mahal itu kan diatas 6 miliar, kalau kita masih di bawah itu kok."
Apakah sudah ada rencana untuk film kedepannya?
"Kita sudah punya banyak ide cerita film. Kita tinggal lihat kondisi aja mana yang cocok untuk dikeluarkan lebih dulu. Ketika situasinya dirasa pas, maka kita tinggal buka buku pintar kita untuk menggarap film tersebut."
Harapan untuk film Dilema?
"Pokoknya Dilema harus ditonton karena film ini punya konsep berbeda dan unik. Selain itu yang paling utama adalah promonya tepat sasaran dan masyarakat tahu kalau film Dilema resmi diputar pada tanggal 23 Februari 2012. Semoga saja masyarakat yang menonton nanti bisa semua merasa terhibur. Aku nggak ingin sampaikan apa-apa di film ini selain untuk menghibur."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar