Pages

Garin Nugroho Berjudi di Film Soegija

Salah satu sutradara kenamaan Indonesia Garin Nugroho, saat ini sudah mulai mempersiapkan karya layar lebar terbarunya yang berjudul Soegija. Lewat film bertema kolosal ini, Garin mengaku berjudi dengan menggunakan 8 tokoh sekaligus di proyek terbarunya tersebut.

Film Soegija diadaptasi dari kisah nyata mengenai perjuangan seorang Uskup pribumi pertama dalam Gereja Katolik Indonesia di tahun 1940-an bernama Albertus Soegijapranata. Berlatar belakang penjajahan Belanda dan Jepang kala itu, Garin Nugroho ternyata juga menggunakan aktor asal negeri kincir angin dan matahari terbit tersebut.

Selain itu, Garin juga mengaku kalau Soegija adalah film termahal sekaligus tersulitnya. Apa saja yang membuat pria kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961 ini tertarik untuk menggarap film ini dan apa keistimewaannya? berikut bincang-bincang 21cineplex dengan Garin Nugroho saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan.

Mas Garin bisa ceritakan nggak bagaimana awal rencana dari pembuatan film Soegija?
"Kebetulan sejak 5 tahun yang lalu saya sudah baca buku harian tentang dia. Sempat terlintas aja kalau hal itu di buat film kayaknya seru juga dan akhirnya kesampaian. Menurut saya film dari agama lain kan jarang, kalau film tentang islam kan sudah banyak."

Film ini kan berlatar belakang tahun 1940-an, kepikiran dengan budget yang besar dan figuran banyak nggak?
"Pastinya kepikiran dengan biaya film yang mahal, tapi saya kalau bikin film nggak pernah tanggung-tanggung, jadi mau nggak mau ya harus disediakan. Tapi bisa dijamin hasilnya 11-12 dengan pendapatannya. Atau dengan kata lain film ini layak lah di banding dengan film lain."

Anda kan menggunakan aktor asli dari Belanda dan Jepang, bagaimana proses readingnya?
"Ya kebetulan banyak teman-teman dari Belanda dan ada agen-agen bagus juga yang menyanggupi permintaan saya dengan harga terjangkau. Ya saling mengerti aja, kenapa saya pakai aktor asli dari sana karena bahasa tubuh mereka beda. Orang Jepang itu kalau di perintah badannya langsung gerak. Kalau urusan dialog itu ada pelatihnya, kebetulan aktor asing yang saya gunakan di sini punya basic teater jadi treatment agak beda."

Kesulitan nggak mengarahkan pemain asing di film ini?
"Awalnya agak sulit juga sih, tapi step demi step akhirnya bisa juga. Kita harus lihat latar belakangnya juga, orang yang dari teater perlakukannya juga dengan arahan teater, kalau dia basicnya sinetron ya perlakuannya sama dengan sinetron gitu aja."

Di film Soegija ini katanya mas Garin sampai detail menseleksi para pemainnya yang khas berwajah jaman dulu, caranya bagaimana?
"Kita lihat dari lukisan dan foto-foto jaman dulu aja, seperti lukisan karya Soejoyono misalnya. Meskipun kelihatannya tidak diatur natural tapi sebenarnya sangat diatur, nanti kamu liat saja hasilnya. Kalau saya sedang teoritis maka saya akan sangat teoritis, disini saya terapkan betul hal itu. Sebetulmya itu salah satu ilmu saya, ilmu membuat film naratif itu adalah keahlian saya karena saya mengajar itu selama 8 tahun."

Film ini kisahnya seperti apa mas, apakah banyak unsur drama kesedihan di dalamnya?
"Ooh ini beda, kalau bikin film nangis itu buat saya gampang banget. Film Rindu Kami Padamu (2004) itu bikin nangis, justru itu banyak saya potong biar orang nggak terlalu banyak nangisnya karena ada etikanya. Film Rindu Kami Padamu itu saya buat cuma 2 minggu, Mata Tertutup (2012) hanya 9 hari, sedangkan film Soegija saya membutuhkan waktu hingga 28 hari. Kalau terbiasa naratif bosen juga dan gampang terduga, maka kita coba bermain-main dengan efeknya yang tidak terduga."

Apa bedanya Soegija dengan film-film mas Garin sebelumnya?
"Ini beda naratifnya karena tokohnya banyak, ada sekitar 8 orang dan itu nggak gampang. Teknologi dalam film ini kemasannya sangat Hollywood sekali, aktingnya natural tapi punya isi akting, itu sulit lho. Kalau dilihat sangat rileks tapi berisi semua. Film dengan 8 tokoh yang berdurasi 2 jam bukanlah perkara mudah karena porsinya harus pas. Kalau mau aman atau mudah sih pakai saja 5 tokoh cukup, tapi di film itu harus ada judinya, kalau nggak ada judinya ya nggak usah buat film. Delapan tokoh ini adalah hal yang paling menantang buat saya."

Kabarnya mas Garin di bilang mulai insaf di film Soegija karena membuat layar lebar yang mudah di mengerti, kenapa mas?
"Setiap film ada tujuannya, Pancasila di film ini ngga ada urusan buat orang luar. Setiap film harus tahu penontonnya siapa, saya nggak suka dua-dua, maksudnya laku di dalam dan laku di luar negeri."

Sosok Soegija ini kan mungkin belum dikenal banyak orang, apakah nggak terlalu beresiko mas?
"Film ini kan ada 8 tokoh dan salah satunya Soegija, disini kita nggak fokus terus menerus tentang dia. Yang terpenting adalah pernyataan Soegija itu harus dilukiskan, kalau tidak malah jadi khotbah keagamaan. Pada intinya ini adalah film kemanusiaan bukan film tentang Soegija."

Kesulitan apa yang paling berat di film Soegija?
"Tokoh yang banyak itu yang tersulit. Untungnya tim saya di proyek ini sebelumnya pernah bekerja dengan saya jadi mereka sudah tahu apa yang saya mau. Misalnya lighting di film itu 60% gelap dan 40% terang, mereka akhirnya selalu begitu tanpa harus saya perintah. Selain itu, buat keharuan yang religius atau keharuan menyentuh itu juga nggak mudah, makanya musiknya harus tepat dan adegan renungannya juga harus mengalir."

Bagaimana cara menggambarkan nuansa 40an di film ini?
"Kita memang pakai jenis kamera tertentu dan pakai Angle tempat yang tepat serta menghidupkan. Jadi kita bukan lagi ngebahas soal komposisi lagi, tapi lebih ke komposisi yang menghidupkan dengan porsi lighting 60% gelap dan 40% terang tadi. Buat film naratif seperti ini sutradara justru ngga banyak kerja, saya justru pernah tidur sampai pemainnya marah karena saya anggap mereka udah tahu."

Apakah film Soegija akan diikutsertakan ke sebuah festival?
"Nggak terlalu, karena isu-isunya Nasional. Beda dengan Mata Tertutup yang budgetnya hanya sekitar 600 juta bisa ikut festival karena isunya internasional."

Kenapa di film Soegija mas Garin banyak mengunakan aktor baru?
"Saya memilih pemain yang tepat dengan skenario dan wajahnya juga mirip pada jaman itu."

Apa pesan yang coba disampaikan dalam film ini?
"Film ini menunjukkan sebuah kepemimpinan di tengah krisis. Kita mencoba memberi panduan kepemimpinan di tengah krisis karena bangsa ini sedang krisis dan penuh konflik."

Apa harapan mas Garin terhadap film Soegija?
"Saya sudah lama nggak berhadapan dengan orang Indonesia bukan karena ingin penghargaan tapi karena ada target. Strategi saya itu bisa tembus festival besar yaitu Venice, Berlin, dan Cannes. Karena ketiga festival itu sudah berhasil saya tembus dan jenuh ada di luar negeri, maka saya kembali dan membuat film yang agak rileks yaitu Mata Tertutup dan Soegija. Saya tahu penonton umum yang vulgar tidak akan terlalu suka. Tapi kita nggak boleh mendangkalkan diri sendiri, kalau tidak, maka tiap penonton akan semakin dangkal. Kalau sudah makin dangkal maka penonton makin kelas bawah dan hanya mengidupi tv aja. Hiburan itu harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan serius. Bagaimana cara kita bisa beri penghiburan kepada masyarakat yang menyejukkan."

Ingin tahu update terbaru mengenai film Soegija? follow aja Twitter mereka @Soegijathemovie.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar