Pages

Dennis Adhiswara Talks about Web Series

Apakah web series itu? Istilah ini mungkin masih terdengar asing di kuping kita. Padahal, saat ini terdapat  ribuan judul web series yang telah dirilis. Namun, kali ini, saya akan coba untuk menjelaskan definisi web series sepengetahuan saya.


Web series adalah sebuah format acara berseri yang ditayangkan di sebuah medium yang sedang berkembang bernama web TV. Contoh web TV yang populer di dunia maya adalah Youtube dan Vimeo. Web series biasanya didesain khusus untuk dirilis perdana via internet, bukan TV reguler. Setiap episodenya berdurasi sekitar dua hingga tujuh menit sehingga penonton tidak harus menunggu proses loading (atau meminjam istilah YouTube: "buffering") terlalu lama.

Seperti acara TV reguler pada umumnya, konten pada web series terbagi dua, yaitu fiksi dan nonfiksi. Dalam kategori fiksi, terdapat genre-genre umum yang sudah biasa kita kenal: action (Mortal Kombat Legacy), thriller (The Bannen Way), drama (OzGirl), komedi (The Guild), dsb. Pada genre nonfiksi juga terdapat keragaman acara yang tak kalah melimpah, seperti talkshow (Toni Blank Show), how to (Backyard FX, Threadbanger, Epic Meal Time), magazine (IGN Daily Fix, Tekzilla), reality (Mommy XXX, The Secret Life of Scientist), dan masih banyak lagi.

Web series cenderung memenuhi selera niche market, tidak seperti TV reguler yang harus mengakomodir selera pasar yang lebih umum. Sebagai contoh: adakah acara TV reguler yang didedikasikan khusus untuk me-review proses membuka kardus sebuah produk? Belum tentu. Coba Anda ketik "unboxing porn" di Youtube (tenang, bukan film porno betulan kok). Dalam setiap episodenya, acara ini membahas detail proses membuka kardus beraneka gadget secara khidmat.

Sebuah episode web series dapat diproduksi dengan bujet yang relatif lebih rendah daripada memproduksi sebuah tayangan untuk TV reguler. Hal ini dikarenakan sudah semakin banyak produsen teknologi yang bersaing di kelas pro-sumer (professional consumer), di mana persaingan harga semakin sengit dan pada akhirnya menguntungkan konsumen. Modal dasarnya cukup kamera, mikrofon, sambungan internet, serta kreativitas. Sangat mungkin bagi seorang penonton untuk memiliki web series-nya sendiri. Demokratis, bukan?

Selain itu, kebanyakan kreator pemula dan menengah memilih medium web series untuk menjangkau pemirsa yang lebih banyak. Bayangkan, tidak lebih dari 10 tahun yang lalu, seorang filmmaker harus menyewa proyektor dan venue untuk tempat pemutaran karyanya. Belum lagi ia harus berpromosi ke sana ke mari. Kini, dengan adanya Youtube, seorang filmmaker cukup mengunggah karyanya dari laptop di rumahnya. Sebagai sarana berpromosi, sang filmmaker bisa menggunakan aplikasi jejaring sosial populer, seperti Twitter dan Facebook. Dan sebagai nilai tambah, kemungkinan untuk mendapatkan sponsor dan mendapatkan kenalan selebritas bisa lebih memungkinkan.

Ambil contoh, Freddie Wong. Ia adalah seorang filmmaker independen. Bersama teman-temannya, ia membuat channel di Youtube untuk memamerkan karyanya setiap minggu. Seiring waktu, penonton dapat melihat konsistensi dan kemajuan Freddie dalam berkarya. Jumlah subscriber channel-nya bertambah seiring waktu. Konten acara semakin kompleks, namun tetap lucu dan keren. Hollywood pun mulai melirik.

Channel Freddie pun kedatangan selebritas terkenal seperti Andy Whitfield (serial Spartacus), Eliza Dushku (serial Dollhouse), dan Jon Favreau (sutradara Iron Man dan Cowboys & Aliens). Selain itu, Freddie dan kawan-kawan juga diberikan kepercayaan untuk membuat iklan video game Battlefield 3 untuk ditayangkan secara nasional.

Indonesia pun tak mau kalah. Pelaku web series mulai menggeliat di negeri ini. Misalkan, Bonnie Rambatan dan timnya dari Cosplay: The Series. Setahun sejak dilluncurkan, ia berhasil menggaet ribuan penonton setia, di mana 40 persennya ternyata berasal dari luar negeri. Ada juga JToku Indonesia dari Yogya. Web series Gatotkaca mereka memang baru tayang tiga episode, namun tawaran untuk diadaptasi menjadi serial di TV nasional sudah datang.

Dari konsistensi karyanya, kreator lokal seakan ingin menunjukkan bahwa bukan hujatan cara untuk menyelamatkan pertelevisian dan perfilman kita yang (katanya) mulai menurun kualitasnya. Meminjam istilah persilatan, mereka melawan api dengan api. Sekarang, wahai pembaca, adakah dari Anda yang siap untuk melawan karya dengan karya? Relatif tidak mahal kok.

Nah, untuk tahu event komunitas web series di Indonesia, staytune di Twitter @CINEMAGSNEWS dan OmDennis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar