Pages

'Bring It On' Natina Reed Dead at 32


Penyanyi R&B Natina Reed yang pernah membintangi Bring It On (2000) sebagai salah satu anggota tim Clovers tewas tertabrak mobil pada Jumat malam lalu di Gwinett, Georgia. Kepolisian Gwinett mengungkapkan bahwa pengendara mobil yang menabrak Reed-lah yang melapor pada 911. Penyelidikan masih terus berlanjut dan sejauh ini sang pengendara mobil tersebut masih dinyatakan tak bersalah dan tak dikenai tuntutan apa pun.

Sesama bintang Bring It On, Eliza Dushku menyayangkan kematian Reed yang masih muda dan berbakat melalui akun Twitternya. Reed sendiri merupakan murid dari personel TLC, Lisa Lopes, yang juga meninggal dalam kecelakaan mobil pada tahun 2002. Sementara Reed tergabung dalam grup R&B Blaque bersama Brandi Williams dan Shamari Fears-DeVoe yang sukses pada tahun 2000 dengan salah satu tembang mereka bertajuk Bring it All Back to Me. ['Nez]

End of Watch: Dua Sudut Pandang dari Aparat Kepolisian LAPD

End of ...

Dua polisi muda Los Angeles Police Department (LAPD) Brian Taylor (Jake Gyllenhaal) dan Mike Zavala (Michael Pena), sangat mencintai profesinya sebagai aparat penegak hukum di kawasan Los Angeles, Amerika Serikat. Brian mencoba mendokumentasikan rutinitasnya sebagai seorang polisi mulai dari ruangan ganti pakaian, rapat internal, hingga kasus-kasus yang ditanganinya.

Sebagai seorang polisi, Brian dan Mike terkadang memiliki cara tersendiri dalam menangani setiap kasus yang diperintahkan. Keduanya pun sangat kompak untuk saling melindungi satu sama lain demi kelancaran tugasnya dan kembali ke rumah untuk bertemu orang-orang yang mereka cintai.

Pada suatu ketika, Brian dan Mike menelusuri kasus perkelahian antara genk kulit hitam dengan kelompok asal Meksiko. Namun hal tersebut justru membawa mereka semakin jauh ke kasus yang lebih serius hingga Brian dan Mike menjadi target pembunuhan para genk asal Meksiko di Los Angeles.

Pada awal film diputar, pasti penonton akan merasa aneh melihat konsep yang coba ditawarkan oleh sutradara David Ayer. End of Watch menyuguhkan konsep dengan 2 sorot kamera yaitu dari rekaman amatir karakter Brian Taylor dan kamera utama dari film ini. Namun perlahan tapi pasti, penonton mulai terbiasa dan menyadari tujuan konsep 2 pengambilan gambar tersebut. Kamera dari sudut pandang Brian Taylor mencoba menggambarkan rutinitas LAPD sehari-hari secara mendalam, sedangkan kamera utama menjadi rajutan yang rapih dari keseluruhan film.

Di awal penayangan End of Watch, penonton mulai ditawarkan dengan aksi menegangkan dari pengejaran Brian Taylor dan Mike Zavala terhadap tersangka kepemilikan senjata. Selain itu, End of Watch juga banyak menampilkan kejadian memilukan yang terekam kamera Brian Taylor, mulai dari korban mutilasi hingga aksi heroik keduanya saat menyelematkan korban kebakaran. Emosi penonton pun dibuat miris saat melihat adegan kasus pecandu narkoba yang tega mengurung anak-anaknya yang masih kecil demi menikmati efek narkotika yang dikonsumsinya.

Tidak hanya banyak menampilkan adegan action, film yang berdurasi 109 menit ini juga menyisipkan cerita-cerita lucu dari curhatan Brian dan Mike. Sebagai rekan kerja, keduanya diketahui saling memberikan saran mengenai pekerjaan, asmara hingga pandangan hidup. Kekompakan itulah yang bisa dirasakan penonton ketika menonton film ini dimana mereka saling bahu membahu dalam menangani sebuah kasus hingga kehidupan pribadinya.

Secara keseluruhan, film ini memiliki kisah yang segar, unik dan sangat menarik sehingga diyakini bisa mengikat perhatian penonton sampai layar lebar tersebut tuntas. Meskipun End of Watch banyak menampilkan adegan yang membuat ngilu dari latar belakang kriminal, namun pesan yang coba disampaikan sangatlah mulia, yaitu kesetiaan.

Apakah Brian Taylor dan Mike Zavala berhasil memberantas kasus-kasus yang telah dijalankannya? Sampai dimana rekaman amatir Brian terus berlanjut? Jawabnya tentu hanya bisa diketahui dengan menonton End of Watch di bioskop-bioskop kesayangan Anda.

Film Sang Kyai Jawaban Rako Prijanto Tentang Asli Indonesia

Sebagai seorang sutradara berpengalaman, Rako Prijanto ternyata masih mengalami kesulitan untuk mengetahui produk asli Indonesia. Namun siapa yang menduga, dari pertanyaannya tersebut ia justru menemukan ide untuk membuat film mengenai sesuatu yang lahir dari Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, sosok yang ingin diangkatnya ke layar lebar adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH. Hasyim Asy'ari.

Rako berniat untuk mengangkat sosok KH. Hasyim Asy'ari ke layar lebar di bawah naungan rumah produksi Rapi Films pada periode menjelang kemerdekaan yaitu 1942-1947. Seperti diketahui, film perjuangan bukanlah hal yang baru karena sebelumnya sudah ada Merah Putih (2009), Darah Garuda (2010), Hati Merdeka (2011), dan Soegija (2012). Namun sutradara kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 4 Mei 1973 ini menegaskan kalau Sang Kyai bukanlah film perang.

Apa alasan Rako membuat film Sang Kyai? dan mengapa dia tertarik untuk mengangkat kisah KH. Hasyim Asy'ari? Berikut adalah bincang-bincang Cinema 21 dengan Rako Prijanto saat ditemui di Gedung Juang 45, Menteng, Jakarta Pusat.

Bagaimana awalnya Anda bisa ditunjuk untuk menyutradarai film Sang Kyai?
"Idenya memang dari saya. Sebagai sutradara, saya suka bertanya sendiri mengenai apa yang asli di Indonesia. Kadang kalau abis pulang dari luar negeri terus sampai Cengkareng, pertanyaan itu mulai datang kembali. Pada suatu ketika saya menukan tulisan Google yang bertajuk 'menjadi Nahdlatul Ulama (NU) menjadi Indonesia'. Darisana saya coba pahami karakter ulama NU dan merucut ke sosok KH. Hasyim Asy'ari. Mulai darisitu saya coba aplikasikan dan tulis dalam bentuk kreasi serta tawarakan ke pihak Rapi Films, Insya Allah diterima"

Apakah sebelumnya Anda sempat terfikir sosok lain selain KH. Hasyim Asy'ari?
"Nggak sih. Karena memang sejak awal merucutnya ke sosok beliau"

KH. Hasyim Asy'ari bukanlah sosok yang sembarangan, apa Anda nggak merasa terbebani dengan nama besar beliau?
"Pastinya beban ini terasa berat apalagi kita belum syuting dan banyak pihak yang sangat berharap kalau film ini memiliki hasil yang maksimal. KH. Hasyim Asy'ari bukan saja milik NU tapi milik bangsa dan mereka semua mengidolakannya, makanya bebannya sangatlah berat"

Persoalan beban tentunya sudah Anda pikirkan sebelumnya, bagaimana solusinya agar film Sang Kyai bisa sesuai dengan harapan orang banyak?
"Saya bukanlah orang yang hidup dari lingkungan pesantren, makanya persiapan saya sangatlah lama untuk menyelami kultur itu"

Bagaimana cara Anda untuk menyelami kultur tersebut?
"Ya saya bertemu dengan Kyai Sepuh dan keluarga beliau. Alhamdulilahnya mereka juga turut membantu mengajukan izin ke pihak PBNU demi terlaksananya film Sang Kyai ini"

Sejak kapan Anda mulai melakukan riset tentang KH. Hasyim Asy'ari?
"Saya melakukan riset sejak tahun 2010. Saya menggunakan literatur bacaan skiripsi dari beberapa orang karena itu sudah terbukti secara akademis dan bisa dipertanggung jawabkan. Tentunya hal itu belum cukup untuk bisa meresapi unsur pesantren, makanya saya harus ketemu dengan sesepuh pesantren dan mencoba menyelaminya"

Film perjuangan kan bukan suatu hal yang baru, apa yang membedakan Sang Kyai dengan film perjuangan lainnya?
"Pada intinya film ini mengangkat unsur spiritual religius terutama Islam, yang berpengaruh untuk memperjuangkan dan pertahankan kemerdekaan. Kenyataanya dulu kita memang bersenjatakan bambu runcing dan batu untuk melawan penjajah yang menggunakan senjata mesin. Mereka sadar itu nggak cukup dan punya rasa takut, tapi secara mental jihad dan meneriakkan Allahu Akbar mereka jadi lebih berani. Menurut saya unsur itulah yang belum tergarap. Ini bukanlah film perang, karena didalamnya perang itu hanya 15 persen aja"

Karena ini menceritakan di masa penjajahan Jepang apakah Anda juga akan menggunakan aktor Jepang asli?
"Iya, karena kalau tidak nanti bisa susah dialognya. Ada sekitar 5 sampai 6 orang yang berdialog. kalau tentaranya kuta bisa minta bantuan dan kerjasama dengan mahasiswa daerah"

Apakah film Sang Kyai nanti bisa dinikmati oleh pemeluk Agama selain Islam?
"Tentu aja bisa karena film ini nggak digarap segmented. Film ini mengisahkan tentang perjuangan untuk bangsa jadi semuanya bersatu"

Apa yang ingin Anda sampaikan di film Sang Kyai dan seberapa penting publik harus melihat film Anda?
"Pesannya adalah perjuangan spiritual sangat mempengaruhi keutuhan negeri ini. Buat saya film ini penting sekali, kepribadian KH. Hasyim Asy'ari bisa jadi referensi dan teladan"